Seperti biasa, saya sebagai pengamat kelas coro ingin mengajak para pembaca bersama-sama mengamati kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di negara kita tercinta. Terkait maraknya kabar-kabar hoax yang tersebar di sosial media yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan.

Politik adu domba, ya mungkin itu yang harus kita waspadai mengingat bangsa kita adalah bangsa yang majemuk, dengan berbagai suku, ras dan agama, Karena bagi orang-orang yang berfikir dan memiliki sudut pandang yang sempit, perbedaan dapat berpotensi gesekan dan akhirnya menimbulkan kecurigaan dan perpecahan.

Adu domba memiliki beberapa ciri diantaranya dengan menyebarkan berita-berita yang dipelintir sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan perpecahan, dimana berita-berita tersebut adalah berita yang bersifat sensitif dan pastinya sangat menimbulkan keresahan, kecemasan, dan  kecurigaan didalam suatu kelompok sehingga menimbulkan perbedaan sudut pandang yang akhirnya melemahkan persatuan.

Jika tidak salah, pada tahun 200 SM ( sebelum masehi) pemerintah Romawi kuno menggunakan taktik adu domba untuk melemahkan Yunani, yang pada saat itu, Yunani merupakan negara yang sangat kuat, tetapi karena adanya perpecahan dan membuat negara tersebut keropos dari dalam, Yunani dapat dikalahkan.

Selain itu, teknik adu domba memiliki ciri adanya pihak-pihak tertentu dibelakang layar yang mendapatkan keuntungan dari suatu perpecahan, baik berupa kepentingan politik maupun ekonomi. Pihak-pihak tersebutlah yang bertanggung jawab atas berita-berita pemecah belah yang dilemparkan ke publik, dan biasa kita kenal dengan sebutan provokator atau aktor dibalik layar pemicu perpecahan.

Jadi inget simbah yang bercerita pada saat jaman penjajahan belanja, dimana sesama penghuni Nusantara saling curiga akibat politik adu domba yang dilakukan belanda, sehingga antar Kerajaan saling berperang dengan berbagai alasan, sehingga belanda dapat menguasai baik secara politik maupun ekonomi selama kurang lebih 300 tahun di berbagai pulau di Indonesia.

Ciri-ciri lainnya biasanya ada pihak ketiga yang mengajak bekerjasama dari salah satu pihak yang bertikai secara terselebung. Tetapi kerjasama tersebut biasanya sih tidak bertahan lama, karena pihak ketiga mengingkari atau menghianati kerjasama tersebut, karena pada intinya, pihak ketiga tersebut yang menyeting semuanya itu.

Saya pernah membaca suatu cerita entah dibuku apa saya lupa, dimana Amerika membuat perpecahan suku-suku Indian, lalu  mengajak salah satu suku untuk bekerja sama menghancurkan suku-suku lainnya, namun setelah itu AS menyerang sekutunya sendiri secara berulang-ulang dengan berbagai alasan.

Selain itu ada ciri lain yang bisa kita lihat dengan pengalihan isu dan sumber daya. Karena perpecahan dan kecurigaan, maka biasanya membuat lupa urusan-urasan lainnya, bahkan urusan yang paling penting, seperti ekonomi dan budaya. Energi dan tenaga terkuras sia-sia sehingga ekonomi melemah, dan pada saat ekonomi melemah, pihak lain masuk menyerang, mungkin jika pada zaman dahulu berperang secara terbuka, mungkin pada zaman ini bisa saja dengan tersembunyi berbagai dalih, eh ngomong-ngomong freport Indonesia dapat berapa persen ya dari hasilnya?, hehe..

Taktik dan logika adu domba dapat kita patahkan dengan mau berpikir kritis dengan segala isu atau berita yang beredar. Dengan mau melihat potensi apa yang akan terjadi dengan perpecahan yang terjadi, ada atau tidaknya salah satu kelompok yang diuntungkan dari perpecahan tersebut, secara nalar pasti dapat kita filter melalui akal budi, bukan karena hanya meyakini apa yang ingin diyakini dengan menelan mentah-mentah isu dan berita yang benarnya hanya tergantung pada sebuah sudut pandang, bukan pandangan secara universal atau pandangan secara menyeluruh, jika menurut pembaca bagaimana?

source: https://seword.com/sosbud/waspadai-politik-adu-domba/